Asal Mula Terbentuknya Benteng Dzulkarnain:
Pada QS. Al-Kahfi: 94, Ya'juj dan Ma'juj adalah kaum yang kasar dan
biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membantai semua yang
menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduknya.
Karenanya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng
agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.
Siapakah sebenarnya Dzulkarnain?
Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny
Al-Yunany (Orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun.
Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan
menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.
Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini
mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Al-Quran
menyebutkan, “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan
kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain
adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari
daulah Al-Jumairiyah (115 SM - 552 M.). Kerajaannya disebut
At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena
kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat
sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang sholeh.
 |
| Gambaran Dzulkarnain |
Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara
Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain
membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal
abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut
sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah
melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog
Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah
di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah
jalan penghubung antara Samarqindi dan India.
Apakah Tembok Besar Cina Adalah Benteng Zulkarnain?
Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam
surat Al-Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol
dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka
taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al-Kahfi ayat 95-98
tentang itu.
Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan
benteng pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara
dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah
tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Benteng Zulkarnain.
Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan
dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun
oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga,
dalam Al-Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat,
Allah berfirman:
“Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu
atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat
wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka
jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al-Kahfi.
Jadi di manakah tembok Zulkarnain?
Beberapa Penelitian Mengenai Benteng Zulkarnain:
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di
distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah Tenggara Bukhara, ada
celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama
antara Turkestan ke India dengan koordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu
kini bernama Buzghol-Khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya
adalah Bab Al-Hadid. Orang Persia menyebutnya Dar-I-Ahani. Orang Cina
menamakannya Tie-Men-Kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.
Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis
besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari
sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani
Abbasiyah, Al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi
tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m
dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang
dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa.
Persis seperti bunyi surat Al-Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon
Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.
Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti
ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di
pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak
seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu
tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di Republik
Georgia.
Al-Syarif Al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang
dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah Al-Watsiq Billah
(Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi benteng/tembok penghalang
yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj
terbuka.
Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat
itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam
untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu Sallam ditemani 50
orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat
Al-Musytaq, buku geografi, karya Al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya
5000 Dinar untuk penelitian ini.
Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin
Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah Utara
ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir,
lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (Nama-nama daerah ini tidak
dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk
membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.
27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba
di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10
hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di
wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada
Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh
Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah
benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat
Ya’juj-Ma’juj berada.
Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia
melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter.
Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.
 |
| Peta Perjalanan Sallam |
Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di
sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam
sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk
mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema
teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu
betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.
Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan Al-Syarif Al-Idrisi dalam
Nuzhat Al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering
mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar,
dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan
suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia.
Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan,
lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.
Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan hancur. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa Al-Masih.
Dalam Nuzhat Al-Musytaq, Al-Syarif Al-Idrisi juga menuturkan bahwa
Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada
yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat
gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup
melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil.
Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian
Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana
Al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan
detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah
pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina.
Penuturan ini tidak bertentangan dengan Al-Syarif Al-Idrisi. Karena di
sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.